Kamis, 18 Desember 2014

TAKSONOMI PENDIDIKAN BLOOM REVISI



 
TAKSONOMI BLOOM SEBELUM DAN SESUDAH REVISI
Salah seorang murid Bloom yang bernama Lorin Anderson merevisi taksonomi Bloom pada tahun 1990. Hasil perbaikannya dipublikasikan pada tahun 2001 dengan nama Revisi Taksonomi Bloom. Dalam revisi ini ada perubahan kata kunci, pada kategori dari kata benda menjadi kata kerja. Masing-masing kategori masih diurutkan secara hirarkis, dari urutan terendah ke yang lebih tinggi.
Dahulu kita mengenal klasifikasi secara hirarkhis terhadap ranah kognitif Bloom menjadi enam tingkatan, mulai dari C1 sampai C6. Klasifikasi hirarkhis itu masih digunakan lagi dalam revisi taksonomi Bloom tersebut sekalipun dengan nomen yang sedikit berbeda
TAKSONOMI BLOOM
C1
C2
C3
C4
C5
C6
SEBELUM REVISI
Pengetahuan
Pemahaman
Aplikasi
Analisis
Sintesis
Evaluasi
SESUDAH REVISI
Mengingat
Memahami
Mengaplikasikan
Menganalisis
Mengevaluasi
Mencipta

Taksonomi Bloom Sebelum Revisi
Taksonomi bloom dikemukan oleh B.S Bloom (1956), Bloom membagi atas 3 Ranah Pengetahuan :
1.      Ranah Kognitif
Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktifitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam jenjang proses berfikir yang hirarki mulai dari jenjang terendah sampai jenjang yang tertinggi.yang meliputi 6 tingkatan:
a.       Pengetahuan (Knowledge), yang disebut C1
Menekan pada proses mental dalam mengingat dan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah siswa peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh sebelumnya. Informasi yang dimaksud berkaitan dengan simbol-simbol matematika, terminologi dan peristilahan, fakta-fakta, keterampilan dan prinsip-prinsip.
b.      Pemahaman (Comprehension), yang disebut C2
Tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan penguasaan atau mengerti tentang sesuatu. Dalam tingkatan ini siswa diharapkan mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa perlu menghubungkannya dengan ide-ide lain dengan segala implikasinya.
c.       Penerapan (Aplication), yang disebut C3
Kemampuan kognisi yang mengharapkan siswa mampu mendemonstrasikan pemahaman mereka berkenaan dengan sebuah abstraksi matematika melalui penggunaannya secara tepat ketika mereka diminta untuk itu. Untuk menunujukan kemampuan tersebut seorang siswa harus dapat memilih dan menggunakan apa yang telah mereka miliki secara tepat sesuai dengan situasi yang ada dihadapannya.
d.      Analisis (Analysis), yang disebut C4
Kemampuan untuk memilih sebuah struktur informasi ke dalam komponen-komponen sedemikan hingga hirarki dan keterkaitan antar ide dalam informasi tersebut menjadi tampak dan jelas. Bloom mengidentifikasi tiga jenis analisis yaitu : (1) analisis elemen dan bagian, (2) analisis hubungan, (3) analisis prinsip-prinsip pengorganisasian. Analisis berkaitan dengan pemilahan materi ke dalam bagian-bagian, menemukan hubungan antar bagian, dan mengamati pengorganisasian bagian-bagian.
e.       Sintesis (Synthesis) , yang disebut C5
Kemampuan untuk mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah struktur yang unik dan sistem. Dalam matematika, sintesis melibatkan pengkombinasian dan pengorganisasian konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika untuk mengkreasikannya menjadi struktur matematika yang lain dan berbeda dari yang sebelumnya. Salah satu contohnya adalah memformulasikan teorema-teorema matematika dan mengembangkan struktur-struktur matematika.
f.       Evaluasi (Evaluation), yang disebut C6
Kegiatan membuat penilaian berkenaan dengan nilai sebuah ide, kreasi, cara, atau metode. Evaluasi adalah tipe yang tertinggi diantara ranah-ranah kognitif yang lain, mulai dari pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, hingga sintesis.

2.      Ranah Afektif
Ranah afektif adalah ranah yang berhubungan dengan sikap dan nilai. Ada beberapa kategori dalam ranah afektif sebagai hasil belajar
1.      Receiving/ attending/ menerima/ memperhatikan.
2.      Responding/ menanggapi.
3.      Valuing/ penilaian.
4.      Organization/ Organisasi.
5.      Characterization by a value or value complex/ karakteristik nilai atau internalisasi nilai.
1.      Receiving/ attending/ menerima/ memperhatikan adalah semacam kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulasi) dari luar yang datang kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain. Dalam tipe ini termasuk kesadaran, keinginan untuk menerima stimulus, control dan seleksi gejala atau rangsangan dari luar. Receiving juga diartikan sebagai kemauan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau suatu objek.
Pada jenjang ini peserta didik dibina agar mereka bersedia menerima nilai-nilai yang diajarkan kepada mereka dan mereka mempunyai kemauan menggabungkan diri ke dalam nilai itu atau mengidentifikasi diri dengan nilai itu.
2.      Responding/ menanggapi adalah suatu sikap yang menunjukkan adanya partisipasi aktif atau kemampuan menanggapi, kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mengikutsertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya dengan salah satu cara. Hal ini mencakup ketepatan reaksi, perasaan, kepuasan dalam menjawab stimulus dari luar yang datang kepada dirinya.
3.      Valuing/ penilaian, menilai atau menghargai artinya memeberikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau objek, sehingga apabila kegiatan itu idak dikerjakan kan memebrikan suatu penyesalan. Dalam kaitannya dengan proses pembelajaran peserta didik tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan mereka telah berkemampuan untuk menilai konsep atau fenomena baik atau buruk.
4.      Organization/ Organisasi yakni pengembangan dari nilai ke dalam suatu sistem organisasi, termasuk hubungan suatu nilai dengan nilai yang lain, pemantapan dan prioritas nilai yang telah dimilikinya. Yang termasuk kedalam organisasi ialah konsep tentang nilai, organisasi sistem nilai dan lain-lain.
5.      Characterization by a value or value complex/ karakteristik nilai atau internalisasi nilai adalah keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Proses internalisasi nilai telah menempati tempat tertinggi dalam hierarki nilai.

3.   Ranah Psikomotor
Ranah Psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skiil) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Adapun kategori dalam ranah psikomotor; (a) Peniruan, (b) Manipulasi, (c) Pengalamiahan, (d) Artikulasi.

Taksonomi Bloom Setelah Direvisi
 
 
Taksonomi Bloom setelah dilakukan revisi oleh Aderson dan Kratwohl (2001), terdapat perbedaan yang tidak banyak pada dimensi Kognitif. Pada Revisi Taksonomi Bloom ini, dibagi atas dua dimensi yaitu:
1.      Struktur dari dimensi proses kognitif
a.       Mengingat
Dapat mengingat kembali pengetahuan yang diperoleh dalam jangka waktu yang lama
b.      Memahami
Membangun makna dari pesan-pesan instruksional, termasuk lisan, tulisan, dan grafik komunikasi, termasuk di dalamnya:
1.      Interpreting (menerjemahkan)
2.      Exemplifying (Mencontohkan)
3.      Classifying ( Mengklasifikasikan)
4.      Summarizing (Meringkas)
5.      Inferring (Menyimpulkan)
6.      Comparing Membandingkan)
7.      Explaining (Menjelaskan)
8.      Mengaplikasikan
9.      Melaksanakan atau menggunakan prosedur dalam suatu situasi tertentu

c.       Menganalisis
Kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan diantara bagian-bagian yang satu dengan yang lainnya.
d.      Mengevaluasi
Kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap situasi, nilai atau ide atau mampu melakukan penilaian berdasarkan kriteria dan standar.
e.       Membuat
Kemampuan menyusun unsur-unsur untuk membentuk suatu keseluruhan koheren atau fungsional, mereorganisasi unsur ke dalam pola atau struktur baru, termasuk didalamnya:
1.      Generating (hipotesa)
2.      Planning (Perencanaan) `
3.      Producing ( Penghasil)
Kata Operasional dari dimensi proses taksonomi Bloom
è    Mengingat – Mengenali, daftar, menjelaskan, mengidentifikasi, mengambil, penamaan, mencari, menemukan
è Memahami – meringkas, menyimpulkan, parafrase, mengklasifikasi, membandingkan, menjelaskan, mencontohkan
è    Menerapkan – Menerapkan, melaksanakan, menggunakan, melaksanakan
è   Menganalisis – Membandingkan, mengorganisir, dekonstruksi, menghubungkan, menguraikan, menemukan, penataan, mengintegrasikan
è   Mengevaluasi – Memeriksa, hypothesising, mengkritisi, percobaan, penilaian, pengujian, Mendeteksi, Monitoring
è     Menciptakan – merancang, membangun, perencanaan, menghasilkan, menciptakan, merancang, membuat

2.      Struktur dari dimensi Isi/Jenis/Pengetahuan
Jika isi adalah subjek-materi yang spesifik maka akan memerlukan banyak taksonomi karena ada materi (misalnya, satu untuk ilmu pengetahuan, satu untuk sejarah, dll). Kemudian, jika isi dianggap ada di luar siswa, maka timbul permasalahan bagaimana untuk mendapatkan isi dalam siswa. Ketika isi di dalam siswa, itu menjadi pengetahuan yang dimiliki oleh siswa. Transformasi ini pengetahuan diperoleh melalui proses-proses kognitif yang digunakan oleh siswa. Sehingga dibedakan atas 4 jenis pengetahuan
1.      Pengetahuan faktual (Factual Knowledge)
Yaitu elemen dasar dimana siswa harus tahu akan berkenalan dengan disiplin atau memecahkan masalah di dalamnya. Termasuk di dalamnya pengetahuan terminologi dan pengetahuan tentang rincian spesifik dan unsur.
2.      Pengetahuan konseptual (Conceptual Knowledge)
Yaitu hubungan antara unsur-unsur dasar dalam struktur yang lebih besar yang memungkinkan mereka untuk berfungsi bersama-sama. Diantaranya: Pengetahuan tentang klasifikasi dan kategori, pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan generalisasi, Pengetahuan tentang teori, model, dan struktur.
3.      Pengetahuan Prosedural (Procedural Knowledge)
Yaitu bagaimana melakukan sesuatu atau penyelidikan, dan kriteria untuk menggunakan keterampilan, teknik, dan metode. Diantaranya: Pengetahuan tentang subyek-keterampilan khusus, pengetahuan subjek-teknik khusus dan metode, pengetahuan kriteria untuk menentukan ketika untuk menggunakan prosedur yang tepat.
4.      Pengetahuan metakognitif (Metacognitive Knowledge)
Yaitu pengetahuan kognisi secara umum serta kesadaran dan pengetahuan tentang kognisi sendiri. Diantaranya: Pengetahuan strategis, pengetahuan tentang tugas-tugas kognitif, termasuk sesuai kontekstual dan kondisi pengetahuan, Pengetahuan diri
                         

Selasa, 18 November 2014

KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR

Dalam Undang-undang guru dan dosen No. 14 tahun 2005 dipersyaratkan bahwa guru/dosen harus memiliki sejumlah kompetensi yaitu kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian. Seorang guru yang profesional tentunya harus memiliki keempat kompetensi itu. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama  mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,  menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan  anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Secara umum guru yang profesional sebagai mana dinyatakan oleh para pakar pendidikan, harus memiliki pengetahuan yang utuh terhadap materi subjek atau konsep yang diajarkan (Content knowledge)  dan juga memiliki pengetahuan serta keterampilan yang baik dalam didaktik pedagogik (Pedagogical knowledge). Guru profesional wajib menguasai kedua pengetahuan tersebut dan terkristalisasi menjadi suatu irisan atau amalgam yang mantap (PCK=pedagogical content knowledge) (Shulman, 1986). 


Pengetahuan guru tentang pedagogi, meliputi pemahaman yang utuh akan kurikulum, memiliki orientasi dan tujuan pembelajaran yang jelas, memahami pendekatan, strategi, metode dan model pembelajaran, memahami evaluasi proses dan hasil belajar, memahami psikologi perkembangan peserta didik  serta menguasai tentang seluk beluk administrasi dan manajmen pendidikan.

Pengetahuan dan pemahaman  guru akan strategi pembelajaran, dimulai dengan menguasai keterampilan dasar mengajar. Seiring dengan perjalanan waktu dan jam mengajar (repertoire), guru profesional perlu memiliki kecakapan dan keterampilan tersebut secara luwes dan menjiwai profesinya. Menurut Turney (1973) ada 8 macam keterampilan dasar mengajar yang harus dikuasai oleh seorang guru profesional, yitu:
1. Keterampilan bertanya, keterampilan bertanya merupakan keterampilan dasar bagiamana guru memberikan cara dan teknik bertanya yang tepat, sehingga dapat memotivasi dan membimbing siswa untuk belajar. Banyak pendidik dan guru menganggap enteng dan mudah tentang "bertanya" ini, namun bertanya yang berkualitas harus dirumuskan dan dilatih dengan benar.
2. Keterampilan menjelaskan; keterampilan menjelaskan suatu konsep, prinsip dan teori dari bahan ajar dengan jelas, disertai berbagai contoh, ilustrasi dan analogi yang tepat, sehingga peserta didik dapat memahami dengan retensi yang tinggi.
3. Keterampilan memberikan penguatan, keterampilan dasar menjgajar ini perlu dimiliki pendidik atau guru agar siswa memiliki acuan yang jelas dalam belajar, serta memiliki pengethauan dan pemahaman yang benar dari konsep yang dibelajarkan.
4. Keterampilan memberikan variasi, keterampilan guru untuk melalukan variasi baik dalam metode atau pendekatan mengajar, maupun dalam menyajikan materi pembelajaran.
5. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan dasar ini perlu dimiliki oleh setiap guru atau pendidik, karena kesan awal pembelajaran akan mempengaruhi kegiatan belajar mengajar secara keseluruhan. Demikian juga menutup pelajaran harus memberikan kesan yang dapat mendorong pembelajaran yang bermakna (meaningful learning).
6. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil
7. Keterampilan mengelola kelas
8. Keterampilan membelajarkan kelompok kecil dan perorangan (individual).

Marilah kita semua sebagai calon guru,  guru atau pendidik menghayati akan tugas dan profesi yang maha penting ini, sehingga senantiasa haus akan pengetahuan dan mengasah diri dengan berbagai keterampilan sehingga proses pembelajaran dapat mengubah sikap, perilku dan mental bangsa. Revolusi mental yang didengungkan oleh Presiden JOKOWI tak akan terwujud tanpa kerja keras semua stakeholder pendidikan.

Minggu, 16 November 2014

Learning How to learn.....

Perubahan paradigma pendidikan dari "Teacher-centered" ke "Student-centered" menuntut pengembangan didaktik metodik dalam pedagogi yang dilakukan oleh guru atau pendidik di kelas. Para pendidik harus memiliki pengetahuan dan keterampilan pedagogik, bagaimana mengaktifkan siswa di kelas. demikian juga para pendidik harus memiliki kompetensi akademik dan profesional agar dapat mendorong terjadi proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM). Lebih lanjut para pendidik juga dituntut menjadi fasilitator dan mediator bagi siswanya agar dapat membelajarkan siswa (learning how to learn). Konsep learning how to learn dapat terjadi apabila siswa dapat memantau dan mengarahkan pembelajarannya secara mandiri

Agar terjadi "learning how to learn" maka diperlukan persyaratan, sebagai berikut:
a. Siswa menetapkan tujuan untuk setiap tugas belajarnya, memonitor kemajuan siswa menuju tujuan, dan menyesuaikan pendekatan yang dilakukan siswa untuk berhasil menyelesaikan tugas atau memecahkan masalah.
b. Siswa mengetahui dan dapat menerapkan berbagai kemampuan belajar dan strategi untuk memenuhi tuntutan tugas yang diterimanya.
c. Siswa dapat memantau pemahaman saat mereka belajar, mengenali ketika mendapatkan kesulitan atau mengalami kendala, mendiagnosis hambatan untuk keberhasilan mereka, dan memilih strategi yang tepat untuk bekerja .
d. Siswa bekerja dengan baik secara mandiri, tetapi dapat meminta bantuan ketika mereka membutuhkannya.
e. Siswa secara rutin merenungkan pengalaman belajar nya dan menerapkan wawasan untuk situasi berikutnya.
 f.Siswa menyadari kekuatan dan kelemahan mereka, dan mengantisipasi perlu bekerja lebih keras pada kegiatan berikutnya.
g. Siswa mengidentifikasi dan bekerja menuju belajar seumur hidup dan tujuan akademik.
h. Siswa menikmati dan mencari pembelajaran mereka sendiri dan dengan orang lain.
i. Siswa mengantisipasi dan siap untuk memenuhi harapan perubahan di berbagai lingkungan akademik, profesional dan sosial.
j. Siswa menunda kepuasan dari belajar yang telah dilakukannya, kembali fokus setelah mendapat tantangan atau gangguan, dan mempertahankan momentum sampai mereka mencapai tujuan.
k. Siswa menggunakan kegagalan dan kemunduran sebagai kesempatan untuk umpan balik dan menerapkan pelajaran untuk meningkatkan upaya-upaya perbaikan di masa depan.
l. Siswa peduli tentang kualitas pekerjaan yang dilakukannya dan melakukan upaya ekstra untuk melakukan hal-hal secara menyeluruh dan baik.
m. Siswa terus mencari cara baru untuk mempelajari materi yang menantang atau memecahkan masalah yang sulit.

Belajar lebih dalam (deeper learning) menuntut siswa untuk mengembangkan sikap positif dan keyakinan tentang diri mereka sendiri dalam kaitannya dengan karya akademik. Pola pikir akademik adalah komponen motivasional yang mempengaruhi keterlibatan siswa dalam belajar. Pada gilirannya, keterlibatan dalam belajar lebih dalam memperkuat pola pikir akademik yang positif. Siswa dengan pola pikir akademis yang kuat, daapt menjadi pendorong upaya untuk belajar dan bertahan dalam menghadapi berbagai kesulitan. Para siswa yang melakukan belajar lebih dalam (deeper learning) akan menggunakan strategi kognitif, metakognitif, dan self-regulatory, karena mereka peduli tentang belajar dan tujuan dalam melakukan apa yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan.
 (Sumber: DEEPER LEARNING COMPETENCIES,Educational
Policy Improvement Center (EPIC), 2011)

Jumat, 14 November 2014

Prinsip Membelajarkan siswa "learning how to learn..."



Paradigma pendidikan telah mengalami pergeseran yang cukup sentral yaitu dari “Teacher-centered” ke  “Student-centered”. Hal ini mengisyaratkan bahwa prinsip pembelajaran mengacu pada pandangan konstruktivisme, yaitu belajar meruapakan proses membangun pengetahuan dalam diri siswa melalui serangkaian pengalaman belajar yang dihadapinya. Peran Guru  lebih banyak sebagai fasilitator dan guider agar siswa dapat belajar. Dengan demikian istilah “mengajar” harus berubah menjadi “membelajarkan”. Guru sebaiknya memberikan kail atau alat pancing dan memberikan petunjuk yang jelas bagaimna cara menggunakan alat pancing tersebut, bukan memberikan ikan kepada siswanya. Apabila ikan habis, maka mereka bisa berusaha sendiri mencari ikan dari sumber lain karena mereka memilki alat pancing atau kailnya sendiri. Jadi Guru hendaklah memberikan jalan atau cara yang mendukung agar siswa bisa menemukan dan memecahkan sendiri permasalahan yang dihadapinya.

Namun  dalam membelajarkan siswa, seorang guru harus memperhatikan dengan seksama prinsip-prinsip pembelajaran. “Mengajar  yang baik”  seorang guru harus memperhatikan prinsip-prinsip, sebagai berikut:
1. Prinsip konteks: memahami konteks dari materi bahasan dalam   hubungannya dengan pengetahuan-pengetahuan lain.
2. Prinsip fokus, artinya dalam membahas suatu materi, hendaknya  gurumenetapkan pokok bahasan sebagai pusat pembahasan dan pusat perhatian siswa.
3. Prinsip urutan (sekuen), artinya dalam mengatur urutan materi pelajaran, hendaknya guru mengurutkan dari hal yang termudah ke yang tersulit, dari hal yang konkret ke abstrak ..dst.
4. Prinsip evaluasi, artinya dalam mengajar guru hendaknya mengintegrasikan evaluasi dalam kegiatan belajar mengajar, karena kegiatan ini berfungsi untuk meningkatkan efektivitas belajar dan memotivasi siswa.
5.  Prinsip individualisasi, Dalam PBM guru hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan yang ada pada diri masing-masing siswa seperti  tingkat kecerdasan (IQ), minat, perhatian,  dan lain sebagainya.
6.   Prinsip sosialisasi, artinya diciptakannya suasana belajar dimana terjadi saling kerjasama antar siswa dan interaksi antar siswa.

“Deep Learning” v.s. “Surface learning”



“Deep Learning”  v.s. “Surface learning”...Learning how to learn...

Dalam sepanjang hayat,  manusia senantiasa beriteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Interaksi ini merupakan fase belajar untuk mencapai suatu kedewasaan, baik dalam berpikir, bertindak dan beritikad. Pada dasarnya belajar merupakan suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang menetap dan tidak diwariskan secara genetis sebagai hasil pengalaman-pengalaman yang terjadi sepanjang hayatnya. Gagne (1977) mendefiniskan bahwa Belajar  adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang meliputi perubahan kecenderungan manusia seperti sikap, minat, atau nilai dan perubahan kemampuannya yakni peningkatan kemampuan untuk melakukan berbagai jenis performance (kinerja).

Cara dan pendekatan belajar seseorang akan mempengaruhi hasil belajarnya. Belajar sebagai respon interaksi dengan lingkungan akan mempengaruhi seseorang untuk memaknai belajarnya secara individual. Menurut para pakar pendidikan pendekatan belajar seorang siswa dapat dikelompokkan menjadi 2 pendekatan yaitu pendekatan dalam dan permukaan (deep and surface approaches of learning).

Pendekatan dalam “deep learning”   menekankan pada pemahaman dan mencari pemaknaan, mempelajari suatu konsep baru dan menghubungkannya dengan pemahaman dan pengetahuan yang telah dimiliki. Sedangkan Pendekatan belajar permukaan “Surface”, menekankan suatu upaya belajar siswa untuk melengkapai tugas belajarnya, dengan mengingat sebanyak mungkin informasi, tidak mengkaitkan konsep baru baru dengan pengetahuan yang telah dimilikinnya dan memperlakukan tugas sebagai paksaan atau beban eksternal. Rote learning (belajar menghapal) adalah contoh pendekatan permukaan. Secara faktual belajarnya tanpa kerangka yang bermakna.

Terlepas dari cara dan pendekatan belajar yang digunakan oleh seorang siswa, peran guru seharunya memberikan media dan fasilitas agar siswa dapat belajar secara bermakna. Guru dapat menjadi pengarah usaha belajar siswa agar mereka dapat meraih target dan tujuan belajarnya dengan maksimal. Mengajar yang baik harus memiliki karakteristik sebagai berikut: Mengundang rasa ingin tahu siswa; 1) Menantang  peserta didik untuk belajar; 2) Mengaktifkan mental, fisik dan psikis siswa; 3) Memudahkan guru dalam mengelola kelas ; 4) Mengembangkan kreativitas siswa; dan 5) Mengembangkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari.



Kamis, 06 November 2014

Peranan Mikroorganisme dalam kehidupan

Kita sering memandang mikroorganisme atau mikroba sebagai makhluk hidup yang merupakan pembununh umat manusia dan banyak kerugiannya dari pada keuntunganya. Padahal beberpa peneliti menyatakan bahwa hanya sekitar 1% mikroba itu merugikan sisanya banyak menguntungkan bgai kehidupan umat manusia. Coba kita renungkan bagaimana jadinya dunia ini bila tidak ada mikroba pembusuk, sampah akan menumpuk setiap hari dan lama kelamaan akan menjadi tumpukan sampah yang  akan mengganggu pada manusia. demikian pula daur materi dan energi yang terjadai di alam melibatkan berbagai aktivitas mikroba yang tentunya menguntungkan bagi kehidupan umat manusia. dari hal-hal yang praktis kita memperoleh aneka macam makanan dan minuman fermentasi yang bergizi tinggi, seperti tempe, oncom, tauco, asinan, manisan, kimchi, yoghurt, dll..

Studi yang telah banyak dilakukan oleh ahli mikrobiologi menunjukkan bahwa mikroba sangat berperan penting bagi kehidupan umat manusia, yang telah banyak memberikan andil besar terhadap kemajuan dan kesejahteraan umat manusia. Kenapa mikroba banyak dipilih sebagai agen pemroses dalam kemajuan sains dan teknologi dewasa ini...? Alasan ilmiahnya adalah sebagai berikut:
1. Ukuran mikroba sangat kecil (mikroskopis), sehingga sangat efesien dalam konversi dan transformasi substrat menjadi suatu produk, hal ini karena rasio luas dan volume sel mikroba  menjadi lebih tinggi sehingga kontak antara mikroba dan substrat akan lebih besar.
2. Pertumbuhan mikroba sangat cepat. Misalnya pertumbuhan rerata dari satu sel bakteri dapat membelah setiap 20 menit sekali, bakteri akan tumbuh dan berkembangbiak sangat cepat, sehingga dalam tempo beberapa jam kita akan memperoleh banyak sel mikroba. Dengan laju pertumbuhan yang tinggi ini maka konversi substrat akan lebih cepat dibandingkan  dengan organisme lain.
3. Genom atau materi genetika mikroba relatif sederhana, hanya beberpa pasang basa sampai  ratusan pasang basa. dengan materi genetik yang sederhana ini para ahli mudah sekali memanipulasi dan merekayasanya untuk kepentingan riset. Misalnya produksi insulin oleh bakteri dari gen-gen mansuia yang dicangkokan kedalam gen bakteri, sehingga dapat diperoleh insulin yang tinggi.
4. Mikroba umumnya mudah ditumbuhkan dalam medium yang minimalis. Mikroba umumnya dapat hidup dengan nutrisi yang terbatas. Mikroba bisa hidup dari sumber karbon organik dan anorganik.

Demikian kelebihan-kelebihan mikroba dibandingkan dengan organisme lain, sehingga pemanfaatan mikroba dalam riset sangatlah prospektif untuk dikembangkan.